Oleh: Anggun Fonanda
Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, -- Sejak kecil, aku terbiasa dengan suara keras dan perlakuan yang menyakitkan dari orang tuaku. Dahulu, aku mengira semua itu dilakukan demi kebaikanku. Aku bahkan berpikir bahwa setiap orang tua mendidik anaknya dengan cara yang sama. Betapa polosnya pemikiranku saat itu.
Jauh di dalam hati, sebenarnya aku tidak dapat menerima perlakuan tersebut. Namun, apa yang dapat dilakukan seorang anak kecil? Aku belum memiliki keberanian dan kekuatan untuk membela diri. Lagi pula, bagi orang tuaku, “membela diri” sama artinya dengan melawan, sedangkan menyampaikan pendapat dianggap sebagai bentuk pembangkangan.
Pemahaman itulah yang perlahan-lahan mengurungku. Aku tumbuh tanpa keleluasaan untuk menentukan pilihan. Sejak kecil, hampir segala sesuatu telah ditentukan: pakaian yang harus kupakai, kegiatan yang boleh kuikuti, teman yang dapat kuajak bermain, hingga cita-cita yang harus kuraih.
Aku tidak boleh menolak, apalagi mengusulkan pilihan yang berbeda. Mungkin mereka tidak membenciku. Mungkin mereka hanya ingin bersikap tegas. Namun, ketegasan yang melampaui batas perlahan-lahan merenggut suaraku. Aku bahkan hampir lupa bagaimana caranya mengatakan, “Inilah yang aku inginkan.”
Dahulu, aku adalah anak yang penuh semangat. Aku berprestasi dan selalu berusaha memberikan hasil terbaik. Setiap kali pulang membawa nilai bagus, piala, atau kabar gembira, aku berharap melihat senyum di wajah orang tuaku. Aku menunggu satu kalimat sederhana, “Bagus, kami bangga kepadamu.”
Namun, kalimat itu tidak pernah kudengar.
Aku masih mengingat saat memenangi sebuah perlombaan di sekolah. Dengan hati berdebar, aku berlari pulang sambil menggenggam piala erat-erat. Aku ingin segera memperlihatkannya kepada orang tuaku dan menceritakan perjuanganku. Akan tetapi, tidak ada senyum, pelukan, ataupun pertanyaan tentang perasaanku. Mereka hanya mengangguk singkat, kemudian memintaku kembali belajar.
Seolah-olah kemenangan itu belum cukup. Seakan-akan usahaku tidak memiliki arti.
Pujian menjadi sesuatu yang asing di rumahku. Segala pencapaian dianggap sebagai kewajiban, bukan sesuatu yang layak diapresiasi. Perjuanganku seperti angin yang berlalu—tidak terlihat dan tidak disadari. Lama-kelamaan, aku mulai memercayai anggapan bahwa diriku memang belum cukup baik, bahkan mungkin tidak berguna.
Aku kerap bertanya dalam hati, apakah begitu sulit untuk sekadar mendengarkan? Apakah kalimat “Aku bangga kepadamu” terlalu berat untuk diucapkan? Ketika melihat teman-temanku dipuji dan didukung oleh orang tua mereka, hatiku terasa perih. Bukan karena iri, melainkan karena aku bertanya-tanya: apa yang membedakanku sehingga kasih sayang sederhana itu terasa mustahil kudapatkan?
Sejak saat itu, aku perlahan-lahan berhenti bercerita. Semua keinginan, impian, dan kegembiraan kusimpan sendirian. Aku belajar untuk tidak terlalu berharap agar tidak kembali kecewa.
Ketika tumbuh dewasa, aku mulai menyadari dampak dari semua pengalaman tersebut. Aku sering kebingungan ketika harus mengambil keputusan sendiri. Setiap kali memperoleh kesempatan memilih jurusan, mengikuti kegiatan, atau menentukan hal-hal sederhana, hatiku dipenuhi kecemasan. Aku takut salah, takut dikritik, dan takut mengecewakan orang lain.
Aku lebih sering mengikuti pilihan orang lain meskipun bertentangan dengan keinginanku. Mengikuti arahan terasa lebih aman daripada berdiri di atas keputusan sendiri. Kebebasan memilih yang bagi orang lain terasa menyenangkan justru menjadi beban berat bagiku.
Hal yang sama terjadi ketika muncul kesalahpahaman. Aku lebih memilih diam dan menerima tuduhan, meskipun sebenarnya tidak bersalah. Sejak kecil, aku belajar bahwa memberikan penjelasan hanya akan memicu kemarahan, sedangkan membela diri dapat mendatangkan hukuman. Karena itu, aku membiarkan orang lain salah paham selama keadaan tetap tenang.
Rasa takut tersebut masih mengikutiku hingga sekarang. Setiap kali ingin berbicara, bayangan suara keras dan tatapan kecewa kembali muncul. Kata-kata yang seharusnya dapat kusampaikan akhirnya tertahan di tenggorokan. Ketika orang lain dengan percaya diri menyampaikan pendapat, aku justru menunduk karena takut suaraku mengganggu, pendapatku keliru, atau orang lain menganggapku sok tahu.
Orang tuaku menginginkanku menempuh pendidikan tinggi, meraih kesuksesan, dan menjadi pribadi mandiri. Namun, mungkin mereka lupa bahwa kemandirian tidak dapat tumbuh di tempat yang tidak menyediakan ruang untuk memilih. Anak yang terus-menerus dibungkam akan kesulitan menemukan suaranya sendiri.
Kini aku memahami bahwa luka masa kecil tidak selalu hilang seiring bertambahnya usia. Luka itu dapat tumbuh bersama seseorang dan memengaruhi caranya memandang diri sendiri. Pengalaman tersebut telah membentukku menjadi seseorang yang sulit percaya diri, selalu merasa kurang, dan takut menyampaikan isi hati.
Meskipun demikian, pengalaman itu juga mengajarkanku sesuatu yang berharga. Aku menjadi memahami betapa pentingnya didengar, dihargai, dan diberi kepercayaan. Aku mengetahui bagaimana rasanya hidup tanpa memiliki suara. Karena itu, aku berjanji kepada diriku sendiri: jika kelak menjadi orang tua, aku akan memberikan ruang kepada anakku untuk berbicara, memilih, dan menjadi dirinya sendiri tanpa rasa takut.
Aku tidak menulis kisah ini untuk menuding atau menyalahkan siapa pun. Aku menyadari bahwa cara orang tuaku mendidik mungkin berasal dari pengalaman masa lalu mereka. Barangkali mereka juga dibesarkan dengan cara yang sama dan tidak pernah mengenal pola pengasuhan yang berbeda.
Namun, mata rantai itu harus diputus. Kita harus menyadari bahwa ketegasan dan kekerasan merupakan dua hal yang berbeda. Ketegasan membimbing, sedangkan kekerasan menekan. Ketegasan memberikan batas yang jelas sekaligus ruang untuk bertumbuh, sedangkan kekerasan hanya menanamkan ketakutan.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk berpendapat bukan berarti mengajarkannya melawan orang tua. Justru melalui kesempatan itu, anak belajar berpikir, bertanggung jawab, dan menghargai perbedaan. Memberikan pilihan juga bukan berarti membiarkan anak berjalan tanpa arah, melainkan menunjukkan kepercayaan sambil tetap mendampinginya.
Setiap anak adalah pribadi yang unik. Mereka memiliki suara, keinginan, kemampuan, dan jalan hidupnya sendiri. Tugas orang tua bukan membentuk anak menjadi sosok yang sepenuhnya sesuai dengan keinginan mereka, melainkan membimbingnya agar bertumbuh menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Aku berharap pengalaman ini dapat menjadi pengingat bagi siapa pun yang membacanya: didikan yang baik adalah didikan yang menumbuhkan, bukan mematahkan; yang membangun keyakinan, bukan menanamkan ketakutan; serta yang membimbing anak menemukan arah, bukan merampas haknya untuk memilih.
Sebab, setiap anak berhak didengar dan setiap suara berharga. (AS)


