Oleh: Reza Wulandari/Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP UNDHARI
Dharmasraya, --Apa sebenarnya makna keluarga? Apakah keluarga selalu menjadi tempat pulang, ruang untuk mengadu, dan tempat berlindung ketika hidup terasa berat? Sebagian orang mungkin membayangkan keluarga sebagai rumah yang dipenuhi kasih sayang, seperti gambaran “keluarga cemara” yang harmonis dan saling menguatkan. Namun, bagi sebagian lainnya, keluarga justru menjadi awal dari berbagai kebingungan, luka, dan ketakutan.
Semua pengalaman itu nyata. Setiap orang memiliki kisah dan porsinya masing-masing dalam menjalani kehidupan. Meskipun demikian, adakah seorang anak yang tidak menginginkan keluarga harmonis? Setiap anak tentu mendambakan keluarga yang dapat menjadi tempat pulang, tempat mengadu, serta tempat yang membuatnya merasa aman dan baik-baik saja.
Lalu, bagaimana denganku?
Aku adalah salah satu anak yang belum beruntung merasakan kehangatan tersebut. Aku memang dilahirkan dari keluarga yang secara fisik masih utuh. Namun, keutuhan itu seolah-olah hanya bertahan untuk menunggu kehadiranku ke dunia. Ketika aku bahkan belum memahami apa pun tentang kehidupan, keluargaku telah kehilangan arah dan keharmonisannya.
Pada usia ketika seorang anak masih membutuhkan tuntunan orang tua untuk belajar melangkah, aku justru tidak memperoleh petunjuk itu. Mau tidak mau, aku harus mencari jalan sendiri, memahami kehidupan sendiri, dan menemukan jawaban tanpa memiliki tempat untuk bertanya.
Aku adalah anak perempuan pertama. Sebagai anak sulung, tentu aku tidak memiliki kakak atau abang yang dapat menjadi tempat mengadu. Keadaan itu membuatku merasa benar-benar sendirian. Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tuaku pun bukan tempat yang nyaman bagiku untuk bercerita dan bertanya.
Perceraian atau istilah broken home tentu sudah tidak asing bagi banyak orang. Namun, jangan pernah menganggap mudah pengalaman seseorang yang tumbuh dalam keluarga seperti itu. Jangan pula sembarangan bertanya tentang bagaimana rasanya menjadi anak dari keluarga yang hancur. Sebab, sebelum mampu menjelaskannya dengan kata-kata, mungkin air matanya telah lebih dahulu mengalir. Begitu dalam luka yang disimpannya.
Bagi orang tua, perceraian mungkin dipandang sebagai solusi ketika hubungan tidak lagi dapat dipertahankan. Namun, pernahkah mereka benar-benar memikirkan kehidupan anak setelah keputusan itu diambil? Mungkin pernah, mungkin juga tidak. Orang dewasa terkadang menganggap bahwa perceraian akan menyelesaikan semua persoalan. Padahal, bagi seorang anak, keputusan tersebut dapat menjadi awal dari berbagai luka, kebingungan, dan pertanyaan yang sulit dijawab.
Bagaimana kehidupan seorang anak yang tumbuh di tengah pertengkaran, suara bentakan, barang-barang yang dihancurkan, serta kedua orang tua yang kemudian sibuk dengan keluarga barunya masing-masing? Apa yang terjadi dengan anak yang ditinggalkan sendirian di antara semua perubahan itu?
Rasanya begitu menyakitkan ketika melihat keluarga baru orang tuaku hidup harmonis, penuh tawa, dan terlihat bahagia. Aku hanya dapat menyaksikan kebahagiaan itu tanpa ikut merasakannya. Dalam hati, aku sering bertanya, “Bukankah mereka juga orang tuaku? Mengapa aku tidak memperoleh kasih sayang yang sama?”
Alih-alih memperoleh kehangatan, aku justru menerima kehancuran, kehilangan, dan rasa sakit. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat mengadu dan berlindung ternyata menjadi sumber luka. Mental dan perasaanku terluka oleh kata-kata kasar, perlakuan keras, dan berbagai tindakan yang membekas hingga aku dewasa.
Setelah cukup dewasa dan mulai memahami keadaan, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada kedua orang tuaku. Aku mencoba menyampaikan seluruh isi hati dan pikiran yang selama ini dipendam. Namun, jawaban yang kuterima justru cacian dan makian. Aku pun kembali bertanya kepada diriku sendiri: apakah aku seburuk itu di mata mereka? Apakah kehadiranku memang benar-benar tidak diinginkan?
Dalam keadaan yang sangat berat, pernah muncul pikiran untuk mengakhiri semuanya. Aku bertanya-tanya apakah kepergianku akan menyelesaikan seluruh persoalan. Pikiran itu tidak hanya muncul sekali atau dua kali. Namun, sampai hari ini, masih ada kekuatan dalam diriku yang membuatku memilih untuk bertahan. Aku menyadari bahwa luka akibat keluarga yang tidak harmonis dapat memberikan pengaruh begitu besar terhadap kehidupan seseorang.
Tidak ada seorang anak pun yang meminta untuk dilahirkan ke dunia. Karena itu, mengapa anak harus menanggung rasa sakit dari persoalan yang tidak pernah ia ciptakan? Seorang anak memang tidak dapat memilih orang tuanya, tetapi ia juga tidak pernah memilih untuk dilahirkan dan hidup di tengah luka.
Kini, ketika mulai dewasa, aku semakin memahami keadaan. Aku juga menyadari bahwa tidak semua suara akan didengarkan. Berulang kali mencoba menjelaskan perasaan hanya menghabiskan energi ketika tidak ada seorang pun yang bersedia memahami. Akhirnya, aku lebih banyak memilih diam, mengalah, dan melanjutkan kehidupan. Untuk saat ini, bertahan adalah hal terbaik yang dapat kulakukan.
Anak yang telah terbiasa sendirian terkadang akan merasa bingung ketika seseorang datang untuk menemaninya. Dalam pikirannya muncul pertanyaan: jika keluarga sendiri tidak bersedia berada di sisinya, mengapa orang lain ingin menemaninya? Namun, bukan berarti ia benar-benar mampu menjalani semuanya seorang diri. Ada kalanya ia sangat membutuhkan seseorang untuk mendengarkan dan menguatkannya. Hanya saja, rasa takut dan pengalaman masa lalu membuatnya lebih memilih diam.
Selama ini, kamar yang sunyi menjadi saksi paling setia. Kasur, bantal, dan selimut menjadi teman bagi air mata yang tidak mampu diperlihatkan kepada orang lain. Dalam kesunyian itulah segala kesedihan disimpan dan berbagai pertanyaan tentang kehidupan terus bermunculan.
Pada akhirnya, aku memang masih belum memahami sepenuhnya jalan hidupku. Aku belum mengetahui seperti apa masa depanku dan masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab. Namun, di tengah semua luka itu, aku tetap memiliki harapan.
Aku berharap kehidupanku kelak menjadi lebih baik daripada kenyataan yang pernah kujalani. Mungkin aku tidak dapat memilih dari keluarga seperti apa aku dilahirkan, tetapi aku masih dapat berusaha menentukan kehidupan seperti apa yang ingin kubangun. Aku ingin menjadikan luka masa lalu bukan sebagai akhir dari perjalanan, melainkan sebagai alasan untuk menciptakan rumah yang penuh kasih, tempat setiap orang merasa diterima, didengarkan, dan selalu memiliki jalan untuk pulang. (AS)


